Monday, November 23, 2009

Daily Tazkirah For The Soul: What is ukhuwah really?

Salaam dear readers,

It's my first time writing here even though the intention is there from the first moment this blog is created. Let's hope this will be the first of many k.

Hurmm..I want to talk about ukhuwah today. Ukhuwah is a difficult thing. You can be so close to a person but yet still do not understand her fully. You might have known a person for less than a month...but it seems like she's the long-lost twin you've been dreaming of...instantly compatible :D. And you could have known her for like forever...but there are times that you feel like she is a total stranger.

I dont want to go into details about how ukhuwah is in Islam, how there are many hadiths and ayah from the Quran touching on this. I am sure my readers are well aware of that. All I want to say is that...when you're close to someone, and you made a small mistake...we're so easily hurt by that. My sister once said; Kenapa kita senang terasa dengan orang yang kita sayang? And I have to agree with that. Ukhuwah for me is about give and take. It's not just about being on the receiving end but sometimes you have to give to receive. If you want more, you have to give more. How could you expect others to constantly give to you without you being on the giving end too? Otherwise, it's not called ukhuwah, that is not friendship.


I've met many kinds of people. And not many are as close to my heart as those called "sisters" to me. Not merely sister by blood relations, but this is the sisters who are with me through thick and thin, understanding me inside out (sometimes maybe :P). It's not easy for us to be like this. It requires a lot of sacrifices, not just any sacrifices...but sacrifices of your precious times to listen to them (sometimes we don't need words, all we need are someone to listen to us), sacrifices in terms of you own feelings (sometimes you have to hold back what you want for the sake of your sisters, because you know she needs it more)...and maybe even sacrificing yourself. These are the things that glued us together, that sometimes people look at us and wonder "How could they be so close?" or people look on with jealousy "Why are they not like that with me?". Let me tell you this, if you want a share of that..you have to do your part. It's a two-way thing. We cannot be selfish and want all that love to ourselves only right ;)

Wherever you go, you will always find these people you can call "sisters". Alhamdulillah, even though it will never be the same, I found the same sweet people here in UTP. Thank you sisters. Thank you ZAGians. And I am sorry if I am not a good sister to you guys...and I am sorry if there are others who felt left out. It is never my intention to do so. Of course you're always welcomed among us.

I leave you with this:
Hadith 13 Arabic text

Abu Hamzah Anas bin Malik, radiyallahu 'anhu, who was the servant of the Messenger of Allah, sallallahu 'alayhi wasallam, reported that the Prophet, sallallahu 'alayhi wasallam, said:

"None of you truly believes (in Allah and in His religion) until he loves for his brother what he loves for himself"

[Al-Bukhari & Muslim]

Loving another like we love ourselves? I can assure you that it is easier said that done!

Until then, wassalamu'alaikum wrm wbt.

quote: We cannot tell the precise moment when friendship is formed. As in filling a vessel drop by drop, there is at last a drop which makes it run over; so in a series of kindnesses there is at last one which makes the heart run over. - Samuel Johnson

Sunday, November 22, 2009

Daily Tazkirah For The Soul: Allah knows

When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows

No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone

Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows

Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ

مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ


"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

[6:59]





Friday, November 20, 2009

Daily Tazkirah For The Soul: Nikmat

Sesetengah nikmat itu hanya datang sekali, tetapi bersyukur kena selalu.

Ada sepasang suami isteri yang hidup bahagia. Tidak ada kurangnya bagi pasangan yang dilimpahi dengan kemewahan ini kecuali satu, mereka tidak punya anak walaupun telah lama berumah tangga. Sering mereka bercerita tentang betapa indahnya hidup sekiranya punya seorang anak penyejuk mata. Rasa ini bergolak hebat apabila melihat kepada jiran sekeliling yang sentiasa riuh rendah dengan bunyi hilai ketawa anak-anak, kadang-kadang tangisan nyaring.

Apa yang menarik tentang pasangan Mr. & Mrs. Perfect ini:

Susun atur dalaman rumah mereka yang rapi, kekemasan sentiasa pada tahap maksimum dan semua benda mesti berjalan seperti yang dirancang dan dijadualkan. Rutin hidup mereka semuanya berjalan seperti dalam catatan diari dalam kerapian tahap tinggi. Nota semakan kerja rumah tergantung pada peti ais, pada white board pula senarai semakan keberkesanan, perancangan pula dalam buku management tersendiri. Dengan tekun semua ini diulang-ulang saban hari, minggu dan tahun.

Pada satu hari yang indah, si isteri bergegas memberitahu jiran tetangga berita gembira yang dikongsi bersama dengan sambutan syukur hampir seluruh kawasan kejiranan berhampiran. Menurut doktor, dia bakal menimang cahaya mata. Kegembiraan jelas terpancar pada pasangan ini, ucapan tahniah datang mencurah-curah.

Begitu pantas masa berlalu. Akhirnya sampailah saat yang mendebarkan, anak yang ditunggu dilahirkan dengan selamat. Bayi lelaki comel ini benar-benar memberi sinar pelengkap kasih sayang di dalam rumah itu.

Tiga tahun berlalu, anak lelaki ini membesar dengan sihat dan subur, sesubur perhatian dan belaian daripada ayah dan ibu. Namun berlaku sesuatu yang tidak diduga oleh ibunya selama ini. Anak lelaki ini mempunyai perangai yang seratus peratus berbeza dengan sikap ibunya. Kalau ibunya sangat kemas, anak lelaki ini akan mengeromot segalanya. Rumah yang selama ini kemas teratur sering kali bertukar wajah menjadi seperti lepas perang, kena penangan anak ini. Keadaan tidak terkawal, anak ini mungkin telah dimanjakan berlebihan.

Si ibu merintih derita. Apa yang berlaku ini bertentangan sama sekali dengan kanun dirinya. Semua mesti sempurna! Sampai pada tahap ini si ibu selalu terlanjur cakap bahawa mempunyai anak sebenarnya satu kesilapan. Anak bukan penyejuk mata sebaliknya peragut ketenangan.

Bagi mendidik si anak, si ibu terpaksa menggunakan sedikit kekerasan, cubit, rotan dan meminta dia berikrar untuk tidak mengulanginya kembali.

“Mama, abang minta maaf … Abang tak akan ulang lagi.” Itulah ungkapan yang diajar setiap kali kesalahan dibuat.

Satu lagi tabiat yang pelik bagi anak ini ialah dia akan mengoyak kertas yang dijumpainya dan dibiarkan bersepah merata-rata. Cubitan dan kemarahan tidak berjaya mengubah tingkah lakunya, dia masih dengan tabiat menyepah-nyepah, kemudian rumah jadi bingit dengan leteran dan bahang kemarahan ibu. Begitulah yang sering berlaku.

Pada suatu hari si ibu bergegas mengemaskan rumah kerana kawan lamanya bakal datang melawat. Dia ke dapur memasak hidangan kepada tetamu yang bakal datang.

Bila dia membawa makanan untuk dihidangkan, alangkah terkejutnya apabila dia melihat ruang tamu bersepah, sofa tunggang langgang dan koyakan kertas bertabur di mana-mana.

“Abang … mari sini!!” Jerit si ibu memanggil anaknya lebih kuat daripada biasa. Kemarahannya mencecah siling kesabaran dan membakar rentung ladang hemahnya.

Si anak ketakutan lalu lari meluru ke arah pintu. Si ibu mengejar dari belakang. Nafasnya tertahan-tahan menahan marah. Kaki anak melangkah keluar dari rumahdengan larian deras. Sesaat dia telah berada di hadapan pagar.

Tiba-tiba terdengar satu bunyi hentaman keras. Larian ibu terhenti. Wajah terasa basah terpercik sesuatu. Dia terpaku … Alangkah terkejutnya apabila melihat anaknya menggelupur kesakitan berhampiran longkang besar di tepi rumahnya. Basah di muka tadi rupanya adalah darah anaknya.

Dia tidak mempedulikan lagi pada kereta yang melanggar, dia meluru mendapatkan anak dan merangkulnya. Darah merah ada di mana-mana, dada anak berombak-ombak, tubuh kekejangan, terdengar bunyi rengekan menahan sembilu kesakitan yang amat. Tanpa berlengah dia terus memandu keretanya, anak diletakkan ke atas ribanya, tubuhnya kini dibasahi darah merah segar anaknya, dia terus memecut laju ke hospital.

“Ya Allah … tolonglah selamatkan anakku ini.” Doanya dalam raungan kuat sambil memandu laju. Hon dibunyikan bertalu-talu minta laluan daripada pemandu lain.

“Ya Allah … aku tahu aku gagal menjadi seorang ibu yang baik tetapi aku memohon sekali ini … Ya Allah selamatkanlah anakku ini.”

Air matanya bercucuran dengan deras menitis, tumpah dan bergaul dengan darah merah anaknya. Perjalanan terasa begitu jauh dalam keadaan begini. Nafas anak tercungap-cungap. Dari mulut, hidung juga telinga darah terus mengalir begitu deras. Si anak bergelut dengan kesakitan, dada berombak kuat, setiap kali dia membuka mulutnya darah bercucuran keluar.

Anak seperti ingin menuturkan sesuatu, ibu menangis semahunya.

“Mama maafkan abang …” Ungkapannya sukar … tersekat-sekat kerana kesakitan itu.

“… Abang janji tak akan buat lagi.”

Itulah ucapan yang selalu dituturkan apabila ibunya marah. Ibu memegang mulut anak, hatinya menangis. Bukan ini yang ibu mahu dengar.

Sebaik sampai di hospital, anak dikejarkan ke bahagian kecemasan. Ibu menunggu di luar, dia membuat panggilan kepada suami dan mengurus segala prosedur yang patut. Dengan baju dipenuhi darah tanpa merasa malu pada orang sekeliling yang melihatnya, dia menangis sekuat hati, rasa sesal mengasak kuat segenap ruang hatinya.

“Ya Allah berilah aku peluang kedua untuk menjadi seorang ibu yang baik, aku sedar akan kesalahanku …”

“Ya Allah selamatkanlah anakku hari ini …”

Doa tidak pernah putus dari bibirnya dengan permohonan setulus-tulusnya kepada tuhan.

Setelah lama menunggu, tiba-tiba doktor keluar. Bebola matanya merenung penuh pengharapan pada doktor.

“Puan, maafkan … Kami telah cuba melakukan yang terbaik.” Patah bicara doktor satu-satu menyusun kalimah.

“Anak puan … Telah meninggal dunia.”

Hanya itu yang mampu dituturkan, walaupun selalu tetapi tetap sukar untuk menjelaskannya kepada ibu ini.

Dunia terasa seperti pasir jerlus yang menyedut dengan deras ke dalam, kepingan langit sekeping-sekeping menghempas ubun-ubun kepalanya. Alangkah sakitnya hakikat ini. Dalam tangisan berderai, dia meluru dan merangkul sekujur tubuh anaknya dengan mata tertutup rapat, kesakitan telah tiada bersama nafasnya yang berangkat pergi buat selama-lamanya.

“Anak … Kamu tidak mendapat apa yang sepatutnya ibu berikan di sepanjang perjalanan pendekmu ini …”

Ibu mencium semahu-mahunya. Namun wajah itu hanya kaku, dingin sekali.

Jenazahnya kemudian diuruskan sehingga selesai sempurna. Malam itu apabila lampu tidur dimatikan dan kawasan kejiranan sunyi, ibu keluar ke kawasan tong sampah di hadapan rumah. Dia menyelongkar sampah semalam mencari koyakan kertas anaknya. Malam itu di ruang tamu rumahnya penuh koyakan kertas yang ditaburkan.

Dengan nada lemah sekali bersama lelehan air mata hangat ibu berkata, “Alangkah indah andainya ini yang ibu lihat pada setiap hari di sepanjang hidup ini.”

“Ibu rindu kepadamu … Ibu rindu kepada nakalmu … Ibu rindu pada koyakan kertas ini, tetapi kenapa ibu buta tentangnya selama ini?”

Tangisan hanya saksi bisu dengan irama tersendiri, namun hakikat yang terpaksa direngguk ialah semua itu tidak boleh diulang lagi. Anak comel itu tidak akan pulang lagi ke rumah sampai bila-bila.

**********

Benar, sesetengah nikmat itu hanya datang sekali, kerana itu nikmati dan syukurilah, bersyukurlah sentiasa.

Amat malang kerana kita selalu sedar dan menghargai sesuatu, hanya selepas nikmat itu terlerai daripada genggaman.



Dipetik dari buku “U-Turn ke Jalan Lurus”


Thursday, November 19, 2009

Daily Tazkirah For The Soul: Sabar

Assalamu'alaikum wbt,

Semoga kita sentiasa bersemangat menjadi seorang muslim, seterusnya mu'min dan terhebat: muhsin, insyaAllah.

Termaktub dalam sepucuk surat Khalifah Umar kepada Abu Musa Al-'Asyaari:

"Milikilah sifat sabar. Sifat sabar itu ada dua. Sabar yang pertama lebih afdhal dari sabar yang kedua iaitu sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT dan sabar dalam menghadapi musibah. Ketahuilah bahawa sabar itu sangkutan iman (orang yang bersabar akan mendapat iman) kerana kebajikan yang paling utama adalah taqwa dan taqwa hanya dapat dicapai dengan sabar."

WaLlahu a'alam,
Wassalam.



"And be patient and your patience is not but by (the assistance of) Allah, and grieve not for them, and do not distress yourself at what they plan." [16:127]


Wednesday, November 18, 2009

Daily Tazkirah For The Soul: Doa Nabi Ibrahim

Doa Nabi Ibrahim dalam surah Asy-Syuaraa'

83: My Lord! Bestow Hukm (ilmu) on me, and join me with the righteous.
"Wahai Tuhanku, berikanlah daku ilmu pengetahuan ugama, dan hubungkanlah daku dengan orang-orang yang soleh"

84: And grant me an honorable mention in later generations.
"Dan jadikanlah bagiku sebutan yang baik (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian"

85: And make me one of the inheritors of the Paradise of Delight.
"Dan jadikanlah daku dari orang-orang yang mewarisi Syurga Jannatun-Naiim"


Semoga berjaya dalam ujian dunia, dan semoga kita berjaya juga dalam ujian mendapatkan syurga. Ameen~





Dengan Nama Allah

Bismillahhirrahmannirrahim...


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani


This is our blog - the ZAG sisters. We'll be sharing our stories and the most important thing is, tazkirah to be shared with others.


Hope this blog will give us benefits to the betterment of our lives, insyaAllah.

"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku"